Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaHiburan
Breaking
Beranda › Teknologi
Teknologi

Microsoft Tawarkan Pensiun Dini Sukarela kepada 60.000 Karyawan, Ini Syaratnya

✍️ Rangga Pratama 🕒 27 Oct 2026 👁️ 7x dibaca
Microsoft Experience Center di New York City.
Microsoft Experience Center di New York City. Foto: Bluestork via Shutterstock

BeritaTop.id - Microsoft menawarkan program pengunduran diri sukarela atau Voluntary Exit Offer kepada sekitar 60.000 karyawan di sejumlah negara. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan menata struktur tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi di tengah besarnya investasi untuk mengembangkan bisnis kecerdasan buatan (AI).

Program tersebut ditawarkan kepada karyawan yang memenuhi kriteria di Amerika Serikat, Kanada, India, dan Inggris. Sasaran program mencakup pegawai dengan jabatan setingkat wakil presiden ke bawah di tim yang memenuhi persyaratan, dengan kompensasi berupa pesangon bagi mereka yang memilih keluar dari perusahaan.

Mengutip laporan Bloomberg, sejumlah divisi Microsoft, termasuk Xbox, Windows, Copilot, dan Keuangan, turut menerima penawaran tersebut.

Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, menyampaikan program itu melalui memo internal yang juga dipublikasikan di situs perusahaan pada Senin (26/10/2026).

“Program Voluntary Exit Offer mencerminkan bagian penting dari cara kami mengembangkan pendekatan terhadap perubahan, yaitu memberikan fleksibilitas yang lebih besar dan, jika memungkinkan, lebih banyak pilihan bagi karyawan untuk menentukan langkah berikutnya,” tulis Coleman dalam memo tersebut.

Coleman menjelaskan bahwa program ini ditujukan untuk memberi kesempatan kepada karyawan yang tengah mempertimbangkan karier di luar Microsoft agar dapat beralih dengan dukungan perusahaan.

Sekitar 60.000 karyawan diperkirakan memenuhi syarat untuk mengikuti program tersebut. Jumlah ini setara dengan sekitar 27 persen dari total 223.000 pegawai Microsoft pada akhir Juni 2026.

Meski demikian, angka tersebut tidak menunjukkan bahwa Microsoft akan langsung kehilangan 60.000 karyawan. Keikutsertaan dalam program bersifat sukarela sehingga jumlah pegawai yang benar-benar meninggalkan perusahaan bergantung pada keputusan masing-masing karyawan.

Ketentuan dan jadwal program

Program ini menjadi salah satu pilihan Microsoft untuk menyesuaikan jumlah tenaga kerja tanpa harus langsung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Namun, tidak semua divisi dan kelompok pegawai dapat mengikuti penawaran tersebut.

Berdasarkan laporan CNBC, sejumlah tim pemasaran, penjualan, dan rekayasa atau engineering tidak termasuk dalam program. Microsoft juga mengecualikan kelompok karyawan tertentu dari penawaran.

Pegawai yang memenuhi persyaratan akan menerima e-mail berisi rincian program. Mereka dijadwalkan menentukan keputusan pada awal Desember 2026, sedangkan karyawan yang menerima tawaran akan meninggalkan perusahaan pada 31 Desember 2026.

Ketentuan pesangon dalam program terbaru ini dilaporkan serupa dengan skema pesangon standar yang berlaku di Microsoft.

Efisiensi di tengah peningkatan investasi AI

Penawaran pengunduran diri sukarela tersebut muncul ketika Microsoft terus memperbesar investasi untuk membangun infrastruktur AI. Salah satu fokusnya adalah pengembangan pusat data guna memenuhi kebutuhan komputasi yang terus meningkat.

Microsoft menyediakan layanan komputasi awan atau cloud bagi berbagai pengembang AI, termasuk OpenAI dan Anthropic. Peningkatan kebutuhan infrastruktur turut mendorong belanja modal perusahaan.

Pada Juli 2026, Microsoft memperkirakan belanja modal pada kuartal yang berakhir September akan melampaui 50 miliar dollar AS atau sekitar Rp 906,7 triliun. Sebagai perbandingan, belanja modal dan sewa pembiayaan perusahaan pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat sebesar 34,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 632,8 triliun.

Di tengah peningkatan pengeluaran untuk infrastruktur, perusahaan yang bermarkas di Redmond, Washington, itu juga berupaya mengembangkan model bisnis yang semakin bertumpu pada layanan AI dan pemanfaatan teknologi tersebut oleh pelanggan.

Microsoft telah membekali sejumlah pekerja dengan perangkat AI, termasuk programmer, tenaga penjualan, dan pekerja di bidang rantai pasok. Langkah ini sejalan dengan upaya perusahaan menyesuaikan keterampilan tenaga kerja terhadap kebutuhan bisnis yang berkembang.

Sebagaimana dihimpun KompasTekno dari TechCrunch dan CNBC, program tersebut juga berlangsung di tengah perubahan kebutuhan perekrutan Microsoft. Pakar ekonomi dari Seattle University, Joseph Phillips, menilai perusahaan masih merekrut pekerja di sejumlah bidang meskipun melakukan pengurangan tenaga kerja di bidang lainnya.

Kondisi itu menunjukkan bahwa penataan tenaga kerja Microsoft berlangsung bersamaan dengan perubahan prioritas bisnis dan peningkatan investasi di sektor AI.

RP
Rangga PratamaPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update