Korban Dugaan Keracunan MBG di Cirebon Capai 432 Orang, BGN Evaluasi SPPG
BeritaTop.id - Jumlah warga yang terdampak dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon mencapai 432 orang hingga Jumat (23/10/2026). Meski jumlah keseluruhan korban bertambah, pasien yang membutuhkan perawatan rawat inap mengalami penurunan dari 218 orang menjadi 66 orang berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon per pukul 11.00 WIB.
Kepala Dinkes Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, menjelaskan bahwa penurunan jumlah pasien rawat inap terjadi karena sebagian pasien telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Sementara itu, mayoritas korban lainnya mengalami gejala ringan dan menjalani rawat jalan setelah mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.
"Namun, meskipun jumlah bertambah, untuk kasus rawat inap per jam 11.00 siang itu dari kemarin itu di 218, Jumat siang di jam 11.00 sudah turun menjadi 66 dengan keterangan yang lainnya itu sudah pulang dalam kondisi sembuh," kata Maria saat ditemui Kompas.com Jumat (23/10/2026) malam.
Dinkes Kota Cirebon hingga kini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Pemeriksaan dilakukan melalui biakan mikroorganisme guna mengidentifikasi kemungkinan bakteri atau jamur yang menjadi pemicu.
Maria menjelaskan bahwa setiap jenis mikroorganisme memiliki masa inkubasi dan waktu kemunculan gejala yang berbeda. Karena itu, hasil pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian secara lebih akurat.
Sebanyak 90 Korban Ditangani RS Siloam Putra Bahagia
Perkembangan pemulihan korban juga terlihat di Rumah Sakit Siloam Putra Bahagia. Direktur rumah sakit tersebut, Dokter Ervina, menyampaikan bahwa dari total 90 korban dugaan keracunan MBG yang sempat mendapatkan penanganan di rumah sakit itu, hanya tiga pasien yang masih dirawat pada Sabtu (24/10/2026) siang.
Menurut Ervina, mayoritas pasien telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang. Sebagian kecil pasien masih memerlukan tindak lanjut berupa rawat jalan.
"Tersisa 3 pasien siang ini, mayoritas sudah sembuh dan dipulangkan, jadi 90 korban peristiwa kemarin (dugaan keracunan MBG) sudah dinyatakan sembuh), dan pulang dari rumah sakit kami," kata Ervina saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (24/10/2026) siang.
Ervina menjelaskan, RS Siloam Putra Bahagia menjadi rumah sakit pertama yang menerima penanganan korban karena lokasinya dekat dengan sekolah dan tempat tinggal sebagian besar pasien.
Sejak pasien mulai berdatangan ke ruang gawat darurat, tim medis melakukan pemeriksaan awal atau triase, memberikan obat dan injeksi sesuai kondisi pasien, serta memasang infus bagi mereka yang memerlukannya.
Gejala yang paling banyak dikeluhkan korban meliputi mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Pada beberapa pasien, ditemukan pula keluhan buang air besar berdarah yang menurut Ervina berkaitan dengan dugaan infeksi pada saluran pencernaan.
BGN Evaluasi Pelaksanaan Program dan Jamin Biaya Pengobatan
Kepala Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Cirebon, Yoga Adijaya, mengatakan pihaknya terus mendampingi korban dan berkoordinasi dengan rumah sakit yang menangani pasien. Pemantauan dilakukan untuk memastikan kondisi korban membaik dan mereka dapat kembali ke rumah setelah dinyatakan layak pulang.
"Untuk tindakan lebih lanjutnya, kami akan memastikan sampai dengan semua pasien yang terdampak bisa dipulangkan dan sembuh total," kata Yoga saat ditemui Kompas.com di RS Siloam Putra Bahagia, pada Jumat (23/11/2026) petang.
Yoga juga memastikan biaya pengobatan korban di seluruh rumah sakit ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN) melalui SPPG.
Selain pendampingan dan pembiayaan medis, kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan program MBG di Kota Cirebon. Namun, langkah perbaikan lebih lanjut masih menunggu hasil investigasi tim BGN pusat untuk mengetahui penyebab kejadian dan menentukan tindakan yang diperlukan.
Yoga menyatakan akan menindaklanjuti temuan tersebut kepada seluruh SPPG di Kota Cirebon agar operasional berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pengadaan makanan. Menurut Yoga, SPPG tidak boleh lagi membeli menu dari pihak luar, dan seluruh proses memasak harus dilakukan di lingkungan SPPG.
Evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar perbaikan tata kelola penyediaan makanan, pengawasan operasional, serta penerapan standar keamanan pangan agar kejadian serupa tidak terulang.
