Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaHiburan
Breaking
Beranda › Teknologi
Teknologi

Sam Altman Sebut RAM PC Boros Memori Dunia, Pernyataannya Tuai Kritik

✍️ Rangga Pratama 🕒 03 Nov 2026 👁️ 3x dibaca
Ilustrasi data center AI.
Ilustrasi data center AI. Foto: Google

BeritaTop.id - CEO OpenAI Sam Altman menilai penggunaan RAM pada komputer pribadi kurang efisien di tengah terbatasnya pasokan memori global. Menurutnya, kapasitas memori yang terpasang di PC akan lebih optimal jika dialokasikan ke pusat data (data center) yang dapat memanfaatkannya hampir sepanjang waktu.

Pernyataan tersebut muncul ketika kebutuhan memori untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) terus meningkat. Lonjakan permintaan dari pusat data AI turut menekan pasokan DRAM, jenis chip memori yang digunakan sebagai RAM pada berbagai perangkat elektronik.

Dalam sebuah wawancara podcast, Altman menyoroti kebiasaan pengguna menyimpan kapasitas DRAM dalam jumlah besar di komputer pribadi, meskipun pemanfaatannya dinilai relatif rendah.

"Dari sudut pandang alokasi global, sebenarnya cukup buruk jika semua orang menyimpan sebagian pasokan DRAM dunia yang terbatas di komputer mereka sendiri," kata Altman.

Ia memperkirakan memori pada komputer pribadi hanya digunakan sekitar 5% dari keseluruhan waktu. Karena itu, menurutnya, pemanfaatan memori melalui layanan komputasi awan atau cloud lebih masuk akal ketika pasokan sedang terbatas.

"Anda menginginkan pemanfaatan maksimal di cloud jika sedang menghadapi kondisi pasokan yang sangat terbatas ini. Entah bagaimana, intuisi banyak orang justru sebaliknya," ujar Altman.

Soroti penggunaan AI secara lokal

Altman juga menyinggung penggunaan komputer pribadi untuk menjalankan AI secara lokal. Dalam skema ini, pemrosesan model AI dilakukan langsung di perangkat pengguna, bukan melalui server penyedia layanan.

Pengoperasian model AI secara lokal umumnya membutuhkan kapasitas RAM yang besar, terutama untuk menjalankan model dengan parameter dan kebutuhan komputasi tinggi.

Bos ChatGPT tersebut turut menyinggung model AI open-source yang dapat diunduh dan dijalankan secara mandiri oleh pengguna. Salah satu contohnya adalah DeepSeek.

Pernyataan Altman kemudian memunculkan perdebatan mengenai arah penggunaan teknologi AI, terutama terkait pilihan antara menjalankan model secara mandiri di perangkat pribadi atau mengandalkan infrastruktur komputasi awan.

Pernyataan Altman dikritik, harga memori terus naik

Pandangan Altman menuai kritik di tengah kenaikan harga komponen perangkat keras. Sejumlah pihak menilai pernyataan tersebut seolah-olah menyudutkan kepemilikan perangkat pribadi dan mendorong ketergantungan pengguna pada layanan komputasi awan.

Kekhawatiran lainnya adalah semakin besarnya dominasi pusat data AI dalam menyerap pasokan memori dunia. Kondisi tersebut berpotensi membuat pengguna individu dan produsen perangkat elektronik semakin sulit memperoleh komponen dengan harga terjangkau.

Di Indonesia, IDC Indonesia sebelumnya memperkirakan kenaikan harga memori masih berlanjut hingga 2027. Tekanan harga tersebut juga disebut berpotensi mendorong kenaikan harga smartphone.

Proyeksi mengenai berakhirnya kelangkaan memori pun berbeda di kalangan industri. Produsen chip memori SK Hynix memperkirakan kondisi pasokan ketat dapat berlangsung hingga setelah 2030.

Sebaliknya, CEO Acer menilai produsen memori berpotensi mempertahankan kondisi tersebut untuk memaksimalkan keuntungan. Ia memperkirakan harga memori bisa mulai turun paling cepat tahun depan.

OpenAI juga menjadi pembeli memori skala besar

Di tengah perdebatan mengenai alokasi memori, OpenAI sendiri merupakan salah satu perusahaan yang membutuhkan pasokan DRAM dalam jumlah besar untuk mendukung pengembangan infrastruktur AI.

Pada Oktober 2025, OpenAI menjalin kerja sama dengan Samsung dan SK Hynix untuk memasok memori bagi Stargate, proyek pusat data AI milik perusahaan tersebut.

Melalui kerja sama itu, kebutuhan Stargate ditargetkan mencapai 900.000 keping wafer DRAM per bulan. Lembaga riset pasar TrendForce memperkirakan kebutuhan tersebut dapat setara dengan hingga 40% dari total produksi DRAM global.

Besarnya kebutuhan memori untuk proyek AI tersebut turut menyoroti persaingan alokasi pasokan antara perusahaan pengembang AI dan pasar perangkat elektronik konsumen. Di satu sisi, pusat data membutuhkan kapasitas memori besar untuk menjalankan layanan AI. Di sisi lain, pengguna komputer pribadi tetap membutuhkan RAM untuk menjalankan aplikasi dan model AI secara mandiri.

RP
Rangga PratamaPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update