Harga Emas Dunia Berpeluang Rebound, XAUUSD Bidik Resistance US$4.002
BeritaTop.id - Harga emas dunia (XAUUSD) berpeluang mengalami pemulihan pada perdagangan Senin (2/11/2026), setelah sebelumnya mencatatkan tekanan jual dan membentuk titik terendah baru. Berdasarkan analisis teknikal Dupoin Futures, harga emas berpotensi menguji area resistance US$3.976 hingga US$4.002 per troy ounce jika momentum penguatan mulai terbentuk.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menyampaikan bahwa indikasi pemulihan terlihat pada grafik XAUUSD dengan kerangka waktu empat jam atau H4.
Sebelumnya, harga emas mengalami tekanan jual hingga bergerak ke rentang US$3.890–US$3.869 per troy ounce. Pergerakan tersebut membentuk titik terendah baru atau swing low.
Setelah mencapai area tersebut, pergerakan XAUUSD mulai memperlihatkan peluang pembalikan arah. Kondisi ini membuka kemungkinan terbentuknya tren sekunder atau secondary trend yang mengarah pada pemulihan harga.
Sinyal potensi kenaikan juga terlihat dari indikator teknikal Stochastic yang telah memasuki wilayah oversold atau jenuh jual. Posisi tersebut mengindikasikan harga telah mengalami tekanan jual cukup besar dan berpeluang mengalami koreksi naik dalam jangka pendek.
Meski begitu, kondisi jenuh jual bukan jaminan harga akan langsung berbalik menguat. Konfirmasi dari pergerakan harga tetap diperlukan untuk memastikan apakah momentum pembelian benar-benar mulai terbentuk.
Resistance XAUUSD Berada di US$3.976–US$4.002
Dupoin Futures memperkirakan harga emas berpeluang menguji resistance terdekat pada rentang US$3.976 hingga US$4.002 per troy ounce apabila pemulihan berlangsung.
Zona tersebut menjadi area penting untuk mengukur kekuatan pembeli setelah XAUUSD mengalami penurunan. Jika tekanan beli meningkat, harga emas berpotensi bergerak naik secara bertahap menuju rentang resistance tersebut.
Namun, prospek rebound secara teknikal masih harus berhadapan dengan sejumlah faktor fundamental. Salah satu yang menjadi perhatian adalah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Membayangi Emas
Mengacu pada rangkuman Reuters, harga emas masih menghadapi tekanan akibat ekspektasi pasar mengenai kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember 2026.
Prospek kenaikan suku bunga berpotensi memperkuat daya tarik dollar AS. Pada saat yang sama, kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang atau opportunity cost bagi investor yang memilih menyimpan emas.
Hal ini berkaitan dengan karakter emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga meningkat, instrumen investasi berbunga berpotensi menjadi lebih menarik dibandingkan emas.
Tekanan juga dipengaruhi pergerakan saham teknologi. Pelemahan saham di sektor tersebut sempat mendorong sebagian investor melepas aset untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
Dalam situasi seperti itu, emas pun dapat terkena tekanan jual meskipun selama ini dikenal sebagai salah satu instrumen lindung nilai atau safe haven.
Data Ekonomi AS Jadi Penentu Arah Harga Emas
Selain perkembangan kebijakan moneter, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pekan ini.
Beberapa indikator yang menjadi perhatian meliputi laporan Institute for Supply Management (ISM) dan data ketenagakerjaan AS, terutama Non-Farm Payrolls (NFP).
Apabila data ekonomi AS menunjukkan kinerja lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat memberikan dukungan bagi dollar AS dan membatasi penguatan harga emas.
Sebaliknya, data ekonomi yang lebih lemah berpotensi mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga The Fed. Situasi ini dapat membuka ruang bagi XAUUSD untuk melanjutkan pemulihan.
Dengan demikian, pergerakan dollar AS, ekspektasi suku bunga, serta hasil rilis data ekonomi Amerika Serikat akan menjadi faktor penting yang memengaruhi arah harga emas dalam waktu dekat.
Dupoin Futures menilai peluang rebound XAUUSD masih terbuka selama momentum pemulihan berkembang setelah terbentuknya swing low baru. Area US$3.976 hingga US$4.002 per troy ounce menjadi resistance yang perlu dicermati untuk mengukur potensi kenaikan berikutnya.
Meski demikian, proyeksi tersebut merupakan skenario analisis pasar, bukan kepastian arah harga maupun rekomendasi transaksi. Perdagangan berjangka memiliki risiko kerugian yang signifikan.
