Sabtu, 07 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaHiburan
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Ekonomi Kepri Tumbuh 7,52% pada Kuartal III 2026, Tertinggi di Sumatra

✍️ Rangga Pratama 🕒 07 Nov 2026 👁️ 1x dibaca
Jembatan I Barelang atau Jembatan Raja Haji Fisabilillah yang menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Tonton.
Jembatan I Barelang atau Jembatan Raja Haji Fisabilillah yang menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Tonton. Foto: Bisnis-Iim Fathimah Timorria

BeritaTop.id - Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tumbuh 7,52% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal III/2026. Capaian tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 6,99% dan menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatra.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri Rony Widijarto P mengatakan, pertumbuhan ekonomi daerah itu berada di atas capaian Sumatra yang sebesar 4,95% dan nasional sebesar 5,47%.

"Secara kumulatif hingga triwulan III 2026, ekonomi Kepri tumbuh 7,19 persen, lebih tinggi dibandingkan Sumatera sebesar 5,04 persen dan nasional sebesar 5,45 persen," katanya, dikutip Sabtu (7/11/2026).

Menurut Rony, pertumbuhan ekonomi Kepri ditopang oleh empat sektor utama, yaitu industri pengolahan, konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran.

Keempat sektor tersebut masing-masing mencatat pertumbuhan 7,79%, 6,61%, 6,26%, dan 7,99%. Industri pengolahan memberikan kontribusi paling besar, yakni 3,18 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Kinerja manufaktur yang semakin kuat, termasuk industri elektronik, turut mendukung peningkatan aktivitas industri pengolahan di Kepri dibandingkan kuartal sebelumnya.

Industri Manufaktur dan Ekspor Nonmigas Menguat

Penguatan industri pengolahan terlihat dari kinerja ekspor nonmigas Kepri yang tumbuh 9,56% pada kuartal III/2026. Kondisi ini menunjukkan perbaikan setelah ekspor nonmigas mengalami kontraksi 0,88% pada kuartal sebelumnya.

Selain manufaktur, sektor konstruksi juga memberikan dorongan terhadap perekonomian. Aktivitas pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan industri, hingga proyek pusat data (data center) di Batam menjadi bagian dari penopang sektor tersebut.

Dari sisi pengeluaran, investasi yang tercermin dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,65%. Komponen ini menyumbang 2,38 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri.

Meski masih tumbuh positif, laju investasi tersebut melambat dibandingkan kuartal II/2026 yang mencapai 24,08%. Perlambatan terjadi di tengah berlanjutnya pembangunan proyek strategis dan pengembangan kawasan industri.

Konsumsi rumah tangga turut menopang pertumbuhan dengan kenaikan 4,15% dan kontribusi 1,60 poin persentase. Aktivitas konsumsi ini didukung tingkat keyakinan masyarakat yang masih berada di zona optimistis, tercermin dari rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 120,08.

Sementara itu, net ekspor tumbuh 7,31% dengan kontribusi 1,18 poin persentase. Konsumsi pemerintah juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 4,86%, meskipun lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 15,83%.

Inflasi Kepri Mencapai 3,51% pada Oktober 2026

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang kuat, tekanan harga masih menjadi perhatian di Kepri. Pada Oktober 2026, inflasi tahunan tercatat 3,51%, sedangkan secara bulanan mencapai 0,38%.

Kenaikan harga komoditas hortikultura menjadi salah satu faktor pendorong inflasi. Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain cabai merah, cabai rawit, kacang panjang, bawang merah, dan sawi hijau.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 1,36% dengan kontribusi 0,40 poin persentase terhadap inflasi bulanan. Cabai merah menjadi komoditas dengan sumbangan terbesar, mencapai 0,36 poin persentase.

Untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi, BI akan memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Koordinasi dengan pemerintah daerah serta pelaku usaha juga terus ditingkatkan melalui berbagai kegiatan. Salah satunya Kepri Economic Forum (KEF) 2026 yang berlangsung pada 21–22 Oktober 2026.

“Forum tersebut mempertemukan regulator, akademisi, dan pelaku usaha untuk merumuskan strategi penguatan sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, terutama melalui peningkatan daya saing sektor pariwisata dan UMKM,” ujar dia.

Dalam forum tersebut, penguatan pariwisata dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu fokus pembahasan. Upaya yang didorong mencakup digitalisasi, peningkatan kualitas produk dan destinasi wisata, serta perluasan keterlibatan UMKM dalam rantai pasok industri pariwisata.

BI dan TPID Jalankan Strategi 4K untuk Kendalikan Inflasi

Selain memperkuat sumber pertumbuhan baru, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus menjalankan program pengendalian harga melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Program tersebut mengacu pada strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Upaya tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat di tengah aktivitas ekonomi yang terus berkembang.

Dengan dukungan industri pengolahan, investasi, perdagangan, serta penguatan sektor pariwisata dan UMKM, Kepri berupaya mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, pengendalian inflasi tetap menjadi perhatian agar peningkatan aktivitas ekonomi dapat berjalan seiring dengan terjaganya daya beli masyarakat.

RP
Rangga PratamaPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update