Daftar Eksportir Chip Terbesar Dunia 2025: Singapura dan Malaysia Masuk Enam Besar
BeritaTop.id - Perdagangan semikonduktor global masih didominasi negara-negara Asia. Hong Kong, Taiwan, dan China menempati tiga posisi teratas sebagai eksportir chip terbesar dunia sepanjang 2025 dengan nilai pengiriman gabungan lebih dari US$670 miliar atau sekitar Rp12.060 triliun.
Ketiga negara dan wilayah tersebut menguasai lebih dari separuh total ekspor chip global yang mencapai US$1,27 triliun. Dominasi Asia juga tercermin dari masuknya Singapura dan Malaysia dalam enam besar eksportir dunia.
Berdasarkan data perdagangan sirkuit terpadu atau integrated circuit (IC) berkode HS 8542, Singapura berada di peringkat kelima dengan nilai ekspor US$135,4 miliar atau sekitar Rp2.437,2 triliun. Sementara itu, Malaysia menempati posisi keenam.
Kategori HS 8542 mencakup berbagai komponen semikonduktor, seperti prosesor, pengendali (controller), memori, penguat sinyal (amplifier), dan jenis sirkuit terpadu lainnya. Dengan cakupan tersebut, data ekspor tidak terbatas pada chip untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI), tetapi juga meliputi komponen yang digunakan dalam beragam perangkat elektronik.
Secara global, nilai ekspor chip pada 2025 mencapai US$1,27 triliun atau sekitar Rp22.860 triliun. Jumlah itu naik 20,9 persen dari US$1,05 triliun atau sekitar Rp18.900 triliun pada 2024.
Porsi chip dalam perdagangan barang dunia turut meningkat. Pada 2025, komoditas semikonduktor menyumbang sekitar 5 persen dari keseluruhan ekspor global, dibandingkan 4,5 persen pada tahun sebelumnya.
Asia Menguasai 91,3 Persen Ekspor Chip Dunia
Besarnya peran Asia terlihat dari nilai ekspor chip kawasan tersebut yang mencapai US$1,16 triliun atau sekitar Rp20.880 triliun sepanjang 2025. Nilai ini setara dengan 91,3 persen dari total perdagangan ekspor chip dunia.
Sebagai perbandingan, Amerika Utara hanya menyumbang 4,4 persen, sementara Eropa berkontribusi 4,2 persen. Konsentrasi pasar juga terlihat pada 15 eksportir terbesar yang secara bersama-sama menguasai 98,1 persen ekspor chip global.
Data World’s Top Exports tersebut menggambarkan kuatnya posisi Asia dalam rantai pasok semikonduktor internasional. Peran kawasan ini tidak hanya berkaitan dengan manufaktur, tetapi juga perdagangan dan distribusi komponen ke berbagai negara.
Hong Kong Teratas dengan Dukungan Re-Ekspor Chip
Hong Kong memimpin daftar eksportir chip dunia dengan pangsa 20,7 persen dari total ekspor global. Nilai pengirimannya tumbuh 19,4 persen dibandingkan 2024.
Namun, posisi tersebut tidak hanya ditopang aktivitas produksi semikonduktor. Hong Kong juga berfungsi sebagai pusat perdagangan internasional yang menangani pengiriman ulang atau re-ekspor chip dari berbagai negara.
Sekitar 40 persen chip yang diperdagangkan melalui Hong Kong berasal dari China. Taiwan menyumbang sekitar seperlima pasokan, disusul Singapura dan Korea Selatan.
Infrastruktur pelabuhan bebas tanpa tarif impor serta jaringan kargo udara yang kuat turut mendukung peran Hong Kong sebagai simpul distribusi semikonduktor lintas negara.
Aktivitas tersebut berlanjut pada 2026. Sepanjang Januari hingga Mei, Hong Kong tercatat melakukan re-ekspor chip senilai US$124 miliar atau sekitar Rp2.232 triliun ke China daratan.
Di posisi kedua, Taiwan mencatat peningkatan ekspor yang cukup besar. Data Kementerian Keuangan Taiwan menunjukkan nilai ekspor sirkuit terpadu negara itu bertambah US$44,8 miliar atau sekitar Rp806,4 triliun selama 2025. Pertumbuhannya mencapai 27,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Korea Selatan yang berada di peringkat keempat juga mencatat kinerja positif. Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea melaporkan ekspor semikonduktor negara tersebut meningkat 22,1 persen pada 2025 dan mencapai rekor tertinggi.
Singapura dan Malaysia Perkuat Posisi Asia Tenggara
Singapura menjadi eksportir chip terbesar di Asia Tenggara sekaligus berada di urutan kelima dunia. Nilai ekspornya mencapai US$135,4 miliar atau sekitar Rp2.437,2 triliun pada 2025, meningkat 13,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Badan Pembangunan Ekonomi Singapura menyebut negara tersebut menghasilkan satu dari setiap sepuluh chip di dunia. Selain itu, sekitar seperlima peralatan semikonduktor global juga diproduksi di Singapura.
Sektor semikonduktor menjadi salah satu penopang ekonomi negara tersebut. Industri ini menyumbang hampir 6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan mempekerjakan lebih dari 35.000 orang.
Salah satu perusahaan yang memiliki peran dalam ekosistem tersebut adalah Micron. Sebanyak 98 persen chip memori penyimpanan NAND flash buatan perusahaan itu diproduksi di Singapura.
Malaysia berada tepat di bawah Singapura, yakni peringkat keenam, dengan nilai ekspor sekitar US$102,2 miliar atau Rp1.839,6 triliun. Selisih nilai ekspor kedua negara mencapai sekitar US$33,2 miliar atau Rp597,6 triliun.
Meski nilai ekspornya lebih rendah, Malaysia mencatat pertumbuhan lebih tinggi. Ekspor chip negara tersebut naik 33,1 persen dibandingkan 2024, menjadi pertumbuhan terbesar di antara enam eksportir teratas.
Lembaga Pengembangan Investasi Malaysia mencatat negara itu berkontribusi sekitar 13 persen terhadap volume global kegiatan perakitan, pengujian, dan pengemasan chip.
Kinerja perdagangan semikonduktor Malaysia juga berlanjut pada 2026. Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia mencatat ekspor semikonduktor selama Januari hingga April meningkat sekitar 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor Chip Indonesia Baru US$766,97 Juta
Di tengah kuatnya dominasi negara-negara Asia dalam perdagangan semikonduktor, Indonesia masih berada di luar kelompok 20 eksportir terbesar dunia.
Indonesia menempati peringkat ke-25 dalam daftar 100 eksportir chip dunia pada 2025 dengan nilai pengiriman sebesar US$766,97 juta atau sekitar Rp13,8 triliun. Nilai tersebut tumbuh 8,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski mencatat pertumbuhan positif, nilai ekspor Indonesia masih kurang dari 1 persen dibandingkan ekspor Malaysia.
Kesenjangan juga terlihat ketika dibandingkan dengan Thailand. Negara tersebut berada di peringkat ke-12 dengan nilai ekspor chip US$11,1 miliar atau sekitar Rp199,8 triliun.
Dengan demikian, nilai ekspor semikonduktor Thailand mencapai sekitar 14,5 kali lipat dari Indonesia. Nilai ekspor Indonesia sendiri baru setara sekitar 7 persen dari capaian Thailand.
Perbandingan tersebut memperlihatkan masih besarnya jarak Indonesia dengan sejumlah negara Asia Tenggara dalam perdagangan chip global, meskipun ekspor semikonduktor nasional tetap mencatat pertumbuhan sepanjang 2025.
