Kementan Gandeng UGM Genjot Produksi Kedelai, Grobogan Jadi Percontohan
BeritaTop.id - Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mempercepat peningkatan produksi kedelai nasional. Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dipilih sebagai lokasi awal pengembangan melalui penerapan teknologi, pendampingan petani, dan optimalisasi pola tanam.
Program kolaborasi ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas kedelai sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Pemerintah menilai penguatan produksi dalam negeri perlu dilakukan melalui kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga mitra usaha.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet mengatakan, peningkatan produksi kedelai membutuhkan sinergi berbagai pihak agar pengembangannya dapat berjalan dari hulu hingga hilir.
“Sebagian besar masyarakat kita tentu mengonsumsi tempe dan tahu. Kedelai menjadi salah satu sumber protein utama. Karena itu, kita berupaya menjalankan arahan Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pertanian untuk mengurangi ketergantungan impor dengan meningkatkan produksi kedelai di tingkat nasional,” ujar Wamentan Alim di Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Selasa (3/11/2026).
Grobogan dipilih karena memiliki rekam jejak panjang sebagai salah satu sentra produksi kedelai nasional. Produktivitas kedelai di daerah tersebut juga dinilai relatif lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sehingga berpeluang menjadi model pengembangan di wilayah lain.
Kementan menargetkan pengembangan kedelai melalui program bantuan seluas 50.000 hektare pada tahun ini. Jika produktivitas mencapai 3 ton per hektare, program tersebut diperkirakan berpotensi menghasilkan sekitar 150.000 ton kedelai.
“Kalau kita bisa mencapai produktivitas 3 ton per hektare, dari 50.000 hektare saja potensinya bisa mencapai 150.000 ton. Ini yang ingin kita dorong melalui percepatan tanam, penerapan teknologi, dan pendampingan kepada petani,” jelasnya.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas kedelai nasional yang saat ini masih berada pada kisaran 1,6–1,8 ton per hektare. Selain peningkatan hasil panen, pemerintah juga mendorong pemanfaatan lahan pertanian secara lebih optimal melalui pengaturan pola tanam.
Alim menegaskan, peningkatan produksi kedelai tidak harus dilakukan dengan membuka lahan pertanian baru, terutama apabila berisiko mengurangi luas lahan padi. Menurutnya, sistem tumpangsari dan pergiliran tanaman dengan komoditas lain, seperti jagung, dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pemanfaatan lahan.
“Kita tidak harus membuka lahan baru. Yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan pola tanam yang sudah ada. Dengan pengaturan pola tanam yang tepat, lahan pertanian bisa dimanfaatkan lebih produktif tanpa mengganggu produksi padi,” katanya.
Di Kabupaten Grobogan, Kementan menetapkan target pengembangan kedelai seluas 5.025 hektare. Dengan asumsi produktivitas 3 ton per hektare, potensi hasil dari program tersebut diperkirakan melampaui 15.000 ton.
Kerja sama Kementan dan UGM tidak hanya berfokus pada kegiatan penanaman. Program ini juga mencakup penerapan teknologi, peningkatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan, serta pengelolaan hasil produksi.
Pemerintah Kabupaten Grobogan, pemerintah provinsi, perguruan tinggi, dan mitra terkait turut dilibatkan untuk memastikan pengembangan kedelai berlangsung secara terintegrasi.
Alim berharap kolaborasi tersebut dapat menjadikan Grobogan sebagai salah satu percontohan pengembangan kedelai nasional yang nantinya bisa diterapkan di daerah lain.
“Kita ingin program ini benar-benar menjadi model. Semua pihak terlibat, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga mitra usaha. Harapannya, pengembangan kedelai di sini bisa berjalan dari hulu sampai hilir dan menjadi salah satu jalan menuju swasembada kedelai,” ungkap Wamentan Alim.
Bupati Grobogan Setyo Hadi mengatakan, daerahnya memiliki potensi untuk kembali memperkuat produksi kedelai. Ia menyebut Grobogan pernah menjadi salah satu wilayah yang banyak ditanami komoditas tersebut.
“Dulu Grobogan ini hampir semuanya menanam kedelai. Sekarang kita coba kembangkan kembali. Saya yakin Grobogan bisa, apalagi dengan dukungan dan kerja sama Kementerian Pertanian. Kami berharap sinergi dengan pemerintah pusat ini terus diperkuat,” ujar Setyo Hadi.
Dukungan akademisi juga menjadi bagian dari program tersebut. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM), Prof. Subejo, menyampaikan bahwa perguruan tinggi akan mendorong penerapan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi masing-masing daerah.
Menurutnya, pengembangan pertanian membutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu serta pemanfaatan pengetahuan lokal agar teknologi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan petani.
“Teknologi yang diterapkan harus tepat guna dan dapat diadopsi oleh petani. UGM akan mengawal penerapan teknologi ini sekaligus membuka ruang bagi pengembangan nilai-nilai lokal yang menjadi keunggulan masing-masing daerah. Pendekatan Smart Agriculture Enterprise membutuhkan kerja sama lintas disiplin dan berbagai pihak,” jelas Subejo.
Melalui kerja sama tersebut, Kementan dan UGM berharap Grobogan dapat menjadi model pengembangan kedelai berbasis teknologi. Peningkatan produktivitas, optimalisasi pola tanam, dan pendampingan berkelanjutan diharapkan memperkuat produksi dalam negeri serta secara bertahap menekan ketergantungan terhadap impor.
