Jumat, 06 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaHiburan
Breaking
Beranda › Hiburan
Hiburan

Film Indonesia Bukan Sekadar Hiburan, Ini Perannya dalam Kritik Sosial dan Sejarah

✍️ Rangga Pratama 🕒 05 Nov 2026 👁️ 1x dibaca
Film Indonesia menjadi medium untuk menyuarakan aspirasi masyarakat.
Film Indonesia menjadi medium untuk menyuarakan aspirasi masyarakat. Foto: Ilustrasi AI

BeritaTop.id - Film Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan kritik sosial, merekam peristiwa sejarah, dan menghadirkan aspirasi masyarakat. Melalui cerita serta karakter yang dibangun, sineas dapat membawa berbagai persoalan kehidupan ke layar lebar sehingga lebih mudah dikenal dan menjadi bahan diskusi publik.

Peran tersebut terlihat dalam sejumlah karya perfilman nasional, seperti Laut Bercerita, Bapak Paling Jujur, dan Merah Sebelum Fajar. Ketiga film ini mengangkat latar dan persoalan berbeda, mulai dari pengalaman aktivis menjelang berakhirnya Orde Baru, sindiran terhadap praktik politik, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Perjalanan Film Indonesia Sejalan dengan Perubahan Sosial

Sejarah perfilman Indonesia memiliki hubungan erat dengan perkembangan sosial, politik, dan budaya masyarakat. Sejak kemunculannya di Tanah Air, industri film terus mengalami perubahan mengikuti kondisi dan dinamika setiap periode.

Kajian Lukas Maserona Sarungu pada 2022 membahas perjalanan sejarah film Indonesia melalui sejumlah aspek, termasuk kebijakan pemerintah, regulasi sensor, perkembangan industri, serta kehidupan para pelaku perfilman.

Pembahasan mengenai perjalanan tersebut juga terdapat dalam Modul Sejarah Film Indonesia yang disusun Satrio Pamungkas dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Materi tersebut menelusuri perkembangan film sejak masa kolonial Belanda dan Jepang, periode setelah kemerdekaan, hingga memasuki era milenium.

Perubahan zaman turut memengaruhi tema dan pendekatan penceritaan dalam film. Persoalan yang berkembang di masyarakat kerap diolah menjadi konflik, karakter, maupun latar cerita yang menggambarkan kondisi sosial pada masanya.

Arda Muhlisiun dalam buku Menulis Film Indonesia (2023) juga mengulas sejarah, identitas, dan kajian film. Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa sinema merupakan bagian dari kebudayaan yang dapat merepresentasikan kehidupan masyarakat, bukan semata-mata karya artistik untuk hiburan.

Film sebagai Sarana Kritik dan Penyampaian Aspirasi

Film memiliki kemampuan untuk mengangkat persoalan yang belum banyak mendapat perhatian. Melalui cerita visual, pengalaman kelompok masyarakat, keresahan publik, dan berbagai isu sosial dapat disampaikan kepada penonton dengan pendekatan yang lebih dekat.

Fungsi tersebut salah satunya terlihat dalam film dokumenter. Penelitian Budi Irawanto dan Theresia Octastefani berjudul Film Dokumenter sebagai Katalis Perubahan Sosial: Studi Kasus Ambon, Aceh, dan Bali (2019) membahas peran film dokumenter dalam mengangkat persoalan sosial dan politik yang kurang memperoleh perhatian.

Pemutaran film dokumenter juga dapat membuka percakapan di ruang publik. Isu yang sebelumnya tidak banyak diketahui berpeluang mendapat perhatian lebih luas, termasuk dari pihak yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjutinya.

Kajian Mohamad Amirsyah Gani dan Reni Nuraeni pada 2019 mengenai film dokumenter Dibalik Frekuensi turut menyoroti penggunaan film sebagai media kritik sosial. Penelitian tersebut membahas representasi kepentingan ekonomi dan politik yang memengaruhi dunia media.

Peran komunikasi sosial itu tidak terbatas pada film dokumenter. Film fiksi pun dapat mengangkat persoalan politik, pengalaman sejarah, dan kondisi masyarakat melalui cerita rekaan. Penonton kemudian dapat menangkap pesan serta menafsirkan persoalan yang disampaikan berdasarkan sudut pandang masing-masing.

Tiga Film Indonesia yang Mengangkat Isu Sosial, Politik, dan Sejarah

Beragam tema dalam perfilman nasional memperlihatkan bagaimana sineas mengolah realitas masyarakat menjadi cerita layar lebar. Laut Bercerita, Bapak Paling Jujur, dan Merah Sebelum Fajar menjadi contoh karya dengan pendekatan berbeda dalam menyampaikan isu sosial, politik, dan sejarah.

1. Laut Bercerita: Menghidupkan Ingatan tentang Aktivis 1990-an

<italic>Laut Bercerita</italic> diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori. Film ini mengambil latar Yogyakarta pada penghujung 1990-an dan mengikuti kisah Biru Laut, mahasiswa yang aktif dalam kelompok diskusi serta memperjuangkan kebebasan berekspresi.

Perjalanan tokoh tersebut membawa penonton pada pengalaman aktivis yang menghadapi penculikan dan penghilangan menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Cerita juga menampilkan perjuangan keluarga yang terus mencari anggota keluarga mereka yang tidak diketahui keberadaannya.

Melalui kisah tersebut, film ini mengangkat kembali ingatan mengenai salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia. Persoalan kebebasan berpendapat, pengalaman korban, dan perjuangan keluarga untuk memperoleh kejelasan menjadi bagian dari isu yang dihadirkan.

2. Bapak Paling Jujur: Kritik Politik melalui Komedi

<italic>Bapak Paling Jujur</italic> mengambil pendekatan berbeda dengan menggunakan komedi untuk menyentil dunia politik.

Disutradarai Fajar Nugros, film ini bercerita tentang Jonas Prakoso, calon gubernur yang berusaha membangun citra sebagai pemimpin ideal. Namun, rencananya berubah setelah ia terkena kutukan yang membuatnya tidak bisa berbohong.

Keadaan tersebut membuat Jonas harus menghadapi berbagai konsekuensi ketika kejujuran muncul dalam situasi yang tidak selalu menguntungkan perjalanan kampanyenya.

Melalui unsur humor, film ini mengangkat persoalan pencitraan politik dan hubungan antara pernyataan calon pemimpin dengan harapan masyarakat terhadap sosok yang ingin mendapatkan kepercayaan publik.

3. Merah Sebelum Fajar: Gambaran Perjuangan pada Awal Kemerdekaan

<italic>Merah Sebelum Fajar</italic> membawa cerita ke Indonesia pada 1946, ketika bangsa yang baru memproklamasikan kemerdekaan masih menghadapi berbagai ancaman dan ketidakpastian.

Film ini menggambarkan perjuangan mempertahankan republik dalam situasi yang tidak sederhana. Selain menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan, masyarakat juga berhadapan dengan ketegangan di antara kelompok-kelompok yang terlibat dalam perjuangan.

Penggambaran periode awal kemerdekaan tersebut membuka ruang untuk melihat kompleksitas perjalanan bangsa setelah proklamasi. Film ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat menghadapi situasi ketika kedaulatan negara masih harus dipertahankan.

<italic>Merah Sebelum Fajar</italic> dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 21 Januari 2027.

Film sebagai Bagian dari Ingatan Kolektif Bangsa

Ketiga film tersebut menunjukkan bahwa persoalan sosial, politik, dan sejarah dapat disampaikan melalui beragam pendekatan sinema. Laut Bercerita mengangkat ingatan tentang pengalaman aktivis, Bapak Paling Jujur menggunakan komedi untuk menyampaikan kritik politik, sedangkan Merah Sebelum Fajar menggambarkan dinamika perjuangan setelah kemerdekaan.

Keragaman tema tersebut memperlihatkan luasnya peran film dalam kehidupan masyarakat. Selain menjadi hiburan, film dapat berfungsi sebagai dokumentasi kebudayaan, ruang penyampaian aspirasi, serta sarana untuk mempertemukan berbagai pandangan mengenai persoalan publik.

Cerita yang hadir di layar lebar juga memungkinkan pengalaman yang sebelumnya kurang terdengar memperoleh perhatian lebih luas. Pada saat yang sama, film dapat membantu generasi berikutnya mengenal kembali peristiwa dan dinamika yang membentuk perjalanan bangsa.

Dengan demikian, perfilman Indonesia memiliki peran dalam merawat ingatan kolektif, menyampaikan kritik, dan mendorong diskusi sosial. Film tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga medium untuk merekam dan menyuarakan kehidupan masyarakat.

Referensi

  1. Sarungu, Lukas Maserona. (2022). Pemetaan Sejarah Film di Indonesia: Studi Literatur Riset Sejarah Film di Indonesia.

  2. Pamungkas, Satrio. (t.t.). Modul Sejarah Film Indonesia. Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta.

  3. Muhlisiun, Arda. (2023). Menulis Film Indonesia. Surabaya: Pustaka Aksara.

  4. Irawanto, Budi, & Octastefani, Theresia. (2019). Film Dokumenter sebagai Katalis Perubahan Sosial: Studi Kasus Ambon, Aceh, dan Bali. Kawistara, 9(1), 107–119.

  5. Gani, Mohamad Amirsyah, & Nuraeni, Reni. (2019). Representasi Kritik Sosial pada Film Dokumenter Dibalik Frekuensi. e-Proceeding of Management, 6(3), 6672–6682.

RP
Rangga PratamaPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update