Rabu, 21 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaHiburan
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

IHSG Tertekan MSCI, Harga Emas dan Minyak Bergerak di Tengah Gejolak Pasar Global

✍️ Rangga Pratama 🕒 16 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Tangkapan layar Google Finance yang memperlihatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (16/10/2026).
Tangkapan layar Google Finance yang memperlihatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (16/10/2026). Foto: Istimewa

Bursa saham Indonesia mengalami tekanan tajam pada Jumat (16/10/2026), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 11 persen menyusul keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyatakan pasar saham Indonesia tidak lagi memenuhi kriteria sebagai pasar berkembang (emerging market). MSCI juga berencana mengeluarkan Indonesia dari sejumlah produk investasi yang menjadi acuan investor global. Kondisi ini memunculkan risiko arus keluar modal asing, sementara nilai tukar rupiah melemah sekitar 0,8 persen.

Penurunan IHSG terjadi ketika sejumlah bursa utama Asia justru mulai bangkit setelah aksi jual besar-besaran sehari sebelumnya. Pemulihan tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran investor terhadap kemampuan pendanaan perusahaan komputasi awan CoreWeave dan keberlanjutan pembiayaan industri kecerdasan buatan (AI).

Indeks Nikkei Jepang menguat 1,8 persen setelah terkoreksi hampir 5 persen pada Kamis (15/10/2026). Kospi Korea Selatan naik 2,8 persen setelah sebelumnya sempat merosot hampir 8 persen. Sementara itu, indeks saham Taiwan bertambah 0,7 persen, Hang Seng Hong Kong naik 1,1 persen, dan indeks saham unggulan China daratan, CSI 300, menguat 0,3 persen.

Pergerakan kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) masih berada di zona merah. Nasdaq berjangka melemah 0,3 persen dan S&P 500 berjangka turun 0,1 persen, meskipun kedua indeks tersebut mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Kamis.

Kekhawatiran Pendanaan AI Picu Gejolak Pasar

Tekanan di pasar global berawal dari kekhawatiran mengenai kondisi keuangan CoreWeave, perusahaan komputasi awan yang mendapat dukungan Nvidia. Saham perusahaan itu sempat pulih pada Kamis setelah mengalami penurunan 15,5 persen pada Rabu.

Sentimen negatif muncul menyusul laporan bahwa imbal hasil obligasi CoreWeave telah mencapai tingkat yang umum dikaitkan dengan utang bermasalah (distressed debt). Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan pendanaan perusahaan-perusahaan AI dan mendorong aksi jual yang lebih luas pada saham sektor tersebut.

Tekanan juga menyentuh industri cip memori. Analis mencermati perkembangan ChangXin Memory Technologies (CXMT) dari China yang tengah mengembangkan arsitektur memori akses acak dinamis (DRAM) generasi berikutnya. Kemajuan itu dinilai berpotensi memperketat persaingan dengan produsen yang selama ini mendominasi pasar.

Analis pasar Capital.com Kyle Rodda menilai gejolak terbaru menunjukkan bahwa periode volatilitas rendah di pasar global telah berakhir.

"Pasar global kembali mengalami gejolak hebat setelah sempat berada dalam periode volatilitas rendah: Wall Street bergerak sangat fluktuatif, imbal hasil obligasi naik-turun, pasar mata uang mengalami perubahan drastis, dan harga komoditas bergerak ke arah yang tidak menentu," tulis Rodda dalam catatan kepada klien. "Pasar global mungkin akan menghadapi periode volatilitas yang berkepanjangan," ujarnya.

Menurut Rodda, ketidakpastian masih berpotensi membayangi pasar dalam beberapa minggu mendatang. Investor akan memantau laporan kinerja perusahaan teknologi serta memperkirakan arah kebijakan suku bunga di AS dan negara-negara ekonomi utama lainnya.

Gubernur Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dijadwalkan berbicara bersama sejumlah pejabat bank sentral dunia dalam rangkaian Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok. Meski demikian, Rodda memperkirakan pasar akan menghadapi tantangan untuk memahami arah kebijakan Warsh.

"Mengingat sikapnya yang dikenal tertutup dan keengganannya terhadap apa pun yang menyerupai 'panduan ke depan' (forward guidance), para pelaku pasar harus bekerja ekstra keras untuk mencoba mendapatkan wawasan dari pernyataan Warsh," ujarnya.

Imbal Hasil Obligasi AS Turun, Dollar Melemah

Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS atau Treasury turun tajam pada Kamis seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset yang dianggap aman. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang kembali naik dan memulihkan sekitar separuh penurunan yang terjadi sehari sebelumnya.

Penurunan imbal hasil Treasury turut menekan daya tarik dollar AS. Indeks dollar berada di sekitar 102 setelah turun dari level tertinggi dalam 1,5 tahun, mendekati 103, yang tercatat pada Rabu (14/10/2026).

Dalam sepekan, indeks dollar melemah 0,2 persen dan berada di jalur menuju penurunan mingguan pertama dalam lima minggu terakhir. Pelemahan tersebut mendorong euro menguat dari 1,1113 dollar AS pada Rabu menjadi 1,1217 dollar AS pada Jumat. Berdasarkan kurs konversi 1 dollar AS sebesar Rp 18.050, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp 20.242 dan Rp 20.430 per euro.

Pound sterling bergerak relatif stabil di level 1,3278 dollar AS atau sekitar Rp 23.967 per pound setelah menguat 0,6 persen pada Kamis. Adapun dollar AS bertahan di kisaran 158 yen Jepang.

Di sisi lain, harga emas terkoreksi 0,4 persen menjadi 4.154,51 dollar AS per ons atau sekitar Rp 74,99 juta. Penurunan itu terjadi setelah logam mulia tersebut menguat 1,6 persen pada Kamis di tengah meningkatnya minat terhadap aset aman.

Harga Minyak Brent Bertahan di Atas 105 Dollar AS

Harga minyak mentah bergerak melemah tipis ketika pelaku pasar mempertimbangkan risiko konflik di Timur Tengah serta kemungkinan pelonggaran sanksi AS terhadap kapal tanker yang mengangkut minyak dari negara-negara yang terkena sanksi.

Pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap sejumlah kapal yang termasuk dalam shadow fleet atau armada bayangan. Kapal-kapal tersebut digunakan untuk mengangkut minyak dan produk minyak dari negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela.

Seorang pejabat AS mengatakan pada Rabu bahwa opsi tersebut dipertimbangkan untuk menekan biaya pengiriman global yang telah mencapai rekor tertinggi.

Namun, risiko geopolitik masih menjadi faktor penahan penurunan harga. Eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, ditambah serangan baru terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut, turut menopang pasar minyak.

Minyak mentah Brent turun 0,4 persen menjadi 105,51 dollar AS per barel, setara sekitar Rp 1,90 juta per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,6 persen menjadi 97,43 dollar AS per barel atau sekitar Rp 1,76 juta per barel.

RP
Rangga PratamaPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update