Selasa, 20 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaHiburan
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Ekspor Melonjak 36,3 Persen, Ekonomi China Kuartal III-2026 Naik tetapi Properti dan Investasi Masih Tertekan

✍️ Rangga Pratama 🕒 19 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Ilustrasi bendera China, China, ekonomi China.
Ilustrasi bendera China, China, ekonomi China. Foto: FREEPIK/WWW.SLON.PICS

BeritaTop.id - Ekonomi China tumbuh 4,5 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2026, didorong ekspor semikonduktor, komponen elektronik, dan produk teknologi hijau, sementara permintaan domestik masih lemah. Angka itu naik dari kuartal II-2026 sebesar 4,3 persen, yang merupakan pertumbuhan terendah dalam lebih dari tiga tahun, dan sekaligus menyentuh batas bawah target pemerintah sebesar 4,5 sampai 5 persen. Data tersebut dirilis Biro Statistik Nasional China (National Bureau of Statistics/NBS) pada Senin (19/10/2026), sebagaimana dikutip dari China Daily.

Sepanjang Januari-September 2026, ekonomi terbesar kedua di dunia itu tumbuh 4,6 persen. Capaian ini menunjukkan ketahanan di tengah tekanan eksternal, termasuk kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan dampak perang AS dengan Iran. Namun, pertumbuhan tersebut timpang: ekspor melaju kencang, sedangkan permintaan domestik belum pulih merata.

Para ekonom menyebut kondisi itu sebagai two-speed economy, yakni ketika manufaktur berteknologi tinggi dan ekspor berkembang pesat, sementara investasi melemah dan konsumsi cenderung stagnan. Wakil Kepala NBS Mao Shengyong menilai perekonomian tetap bergerak di tengah tekanan.

“Perekonomian bergerak maju di bawah tekanan dan berkembang ke arah yang lebih baru dan lebih baik, dengan peningkatan perubahan positif pada indikator-indikator utama,” kata Mao dalam konferensi pers pada Senin, seperti dikutip CNN.

Mao juga mengingatkan adanya tantangan yang masih membayangi.

“Pada saat yang sama, kita juga harus menyadari bahwa lingkungan internasional kompleks dan bergejolak, persoalan kurangnya permintaan domestik masih relatif menonjol, dan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang stabil dan positif masih perlu diperkuat,” ujarnya.

Ekspor Teknologi dan Produk Hijau Jadi Penopang

Perdagangan luar negeri menjadi penopang utama ekonomi China pada kuartal III-2026. Ekspor melonjak 36,3 persen pada September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kenaikan terbesar sejak awal 2021, berdasarkan data kepabeanan yang dirilis pekan lalu. Ekspor ke AS naik 39,6 persen secara tahunan.

Lonjakan itu terutama datang dari produk terkait kecerdasan buatan (AI), seperti semikonduktor dan komponen elektronik, serta produk teknologi hijau seperti baterai. Permintaan global terhadap teknologi pendukung AI mendorong manufaktur China sekaligus menopang perdagangan saat konsumsi dalam negeri lesu. Surplus perdagangan Januari-September 2026 mencapai 938,1 miliar dollar AS, naik dari 875,1 miliar dollar AS pada periode sama tahun sebelumnya.

Meski begitu, melonjaknya pengiriman barang China memicu kekhawatiran sejumlah negara soal persaingan dagang dan posisi industri domestik mereka. Beijing berupaya meredakan ketegangan dengan mitra utama. Pada pertemuan bulan lalu, Presiden Xi Jinping dan Presiden Trump sepakat memperpanjang gencatan tarif hingga Januari 2027 serta mengurangi tarif atas barang senilai 60 miliar dollar AS. Keduanya diperkirakan bertemu lagi pada November 2026 di KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen.

China dan Uni Eropa juga mencapai kesepakatan awal perdagangan pada Oktober 2026 yang mencakup pembatasan ekspor kendaraan hibrida China dan peningkatan akses pasar. Kesepakatan ini meredakan risiko perang dagang terbuka, tetapi menurut para pakar yang dikutip CNN, pembatasan itu berpotensi menekan ekspor otomotif China.

Properti dan Investasi Masih Terpuruk

Sektor properti yang terpuruk selama lima tahun masih menjadi beban utama. Sekitar 70 persen kekayaan rumah tangga China diperkirakan terkait aset properti. Investasi properti anjlok 20,2 persen sepanjang Januari-September 2026.

Investasi aset tetap, yang mencakup infrastruktur, pabrik, dan properti, turun 7,2 persen dalam sembilan bulan pertama 2026, sama dengan laju kontraksi delapan bulan pertama. Padahal investasi adalah salah satu pilar perekonomian China, sehingga pelemahannya menandakan pemulihan belum merata.

Penjualan Ritel Membaik Tipis

Di sisi konsumsi, penjualan ritel tumbuh 1,1 persen pada September 2026 secara tahunan, naik dari 0,4 persen pada Agustus dan menjadi yang tercepat sejak Maret 2026. Meski positif, pemerintah masih menganggap penguatan konsumsi domestik sebagai pekerjaan yang harus dilanjutkan.

Stimulus Terbatas dan Proyeksi IMF

Pemerintah menjadikan peningkatan permintaan domestik prioritas kebijakan 2026. Pada September 2026, diumumkan stimulus terbatas berupa subsidi kredit pemilikan rumah bagi pembeli rumah pertama dan penurunan suku bunga yang ditargetkan.

Pekan lalu, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan China 2026 menjadi 4,5 persen dari 4,6 persen, dan proyeksi 2027 menjadi 4 persen dari 4,1 persen. IMF menyebut lemahnya konsumsi dan investasi hanya sebagian diimbangi ekspor.

“Lemahnya konsumsi domestik dan melemahnya investasi di tengah tekanan berkelanjutan pada sektor properti hanya sebagian diimbangi oleh kinerja ekspor yang kuat,” demikian pernyataan IMF dalam World Economic Outlook edisi Oktober 2026.

Di sisi lain, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,1 persen dari 3 persen. Bagi China, kuartal III-2026 memperlihatkan besarnya peran ekspor manufaktur berteknologi tinggi, sementara penurunan investasi aset tetap, kemerosotan properti, dan kebutuhan memperkuat konsumsi masih menjadi tantangan bagi Beijing.

RP
Rangga PratamaPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update